MR-BEJO.COM - Blog for Business and Education
RSS Feed
Subscribes

Tes dan Evaluasi

 

 

 

MERENCANAKAN TES DAN

EVALUASI DI KELAS

- Bejo Sutrisno –

 

1   Pendahuluan

ac Seperti kita ketahui, proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang bertujuan. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar.

       Untuk dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Penilaian atau evaluasi pada dasarnya ialah proses memberikan pertimbangan atau nilai tentang sesuatu berdasarkan kriteria tertentu.

       Dalam hubungan ini, kegunaan evaluasi ialah untuk mengetahui:

1.   Seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan.

2.   Bagian-bagian mana dari program pengajaran yang masih lemah dan perlu diperbaiki.

 

      Berdasarkan fungsi tersebut di atas, guru dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran, dalam hal ini tujuan instruksional khusus (TIK). Dengan fungsi ini dapat diketahui tingkat penguasaan bahan pelajaran yang telah dimiliki oleh para siswa. Dengan perkataan lain, dapat diketahui hasil belajar yang dicapai para siswa. Di samping itu, dengan fungsi ini guru dapat mengetahui berhasil tidaknya ia mengajar. Karena rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh para siswa bukan semata-mata disebabkan siswa itu sendiri, tetapi dapat juga disebabkan oleh kurang berhasilnya proses belajar-mengajar yang dilaksanakn oleh guru.

       Sasaran utama pada tes dan evaluasi kelas adalah untuk memperoleh informasi yang valid, reliabel dan bermanfaat terhadap prestasi siswa. Hal ini perlu menetapkan tentang apa yang perlu diukur dan mengidentifikasikannya secara cermat sehingga tugas-tugas yang membangkitkan performansi yang diharapkan dapat dibangun. Dan juga perlu menetapkan  bidang-bidang prestasi sedemikian rupa sehingga sampel-sampel butir soal dan tugas-tugas evaluasi akan menyajikan bidang secara keseluruhan dan hasilnya akan layak untuk penggunaan pengajaran yang diinginkan.

       Mempersiapkan tes dan evaluasi kelas yang valid, reliable dan bermanfaat sangat bisa ditingkatkan  jika langkah-langkah seperti pada figure 1 ini bisa dijalankan dengan baik.

 

 

FIGURE 1

Langkah-langkah dasar di dalam test dan evaluasi di kelas.

 

                                                          TUJUAN

                                                             Pengajaran dan Pembelajaran

                                                                     ditingkatkan

                                                                   w

 

 


 

8. menggunakan hasil

 

7. menilai evaluasi

 

6. menjalakan evaluasi

 

5. merakit evaluasi

 

4. menyiapkan evaluasi yang relavan

 

3. memilih evaluasi yang sesuai

 

2. mengembangkan spesifikasi

1. menentukan tujuan pengukuran

               

 

 

       Kekuatan dan kelemahan dari program pengajaran yang telah disusun guru biasanya dapat diketahui dengan lebih jelas setelah program tersebut dilaksanakan di kelas dan dievaluasi dengan seksama. Hasil yang diperoleh dari evaluasi yang diadakan akan memberi petunjuk kepada guru tentang bagian-bagian mana dari program tersebut yang sudah berhasil dan bagian-bagian mana pula yang belum berhasil mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

        Atas dasar hasil evaluasi tersebut dapat dilakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan, baik pada waktu program masih berjalan maupun setelah program itu selesai dilaksanakan. Perbaikan yang dilakukan setelah program selesai dilaksanakan berguna untuk keperluan penyempurnaan pengajaran pada tahun berikutnya.

       Penyempurnaan-penyempurnaan program pengajaran yang telah disusun oleh guru pada hakikatnya berlangsung secara terus-menerus, apalagi mengingat siswa-siswa yang dihadapi guru berbeda dari tahun ke tahun.

 

2   Tujuan dan Evaluasi di Kelas

Tes dan evaluasi kelas bisa digunakan untuk bermacam-macam tujuan instruksional.

2.1   Tes Awal (Pretesting )

qs        Langkah pertama yang biasa dilakukan dalam melaksanakn suatu program pengajaran ialah mengadakan evaluasi awal. Evaluasi awal atau pretest dilakukan sebelum pelajaran diberikan. Tujuan atau fungsinya ialah untuk mengetahui kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang bersangkutan. Dengan mengetahui kemampuan awal siswa ini, guru akan dapat menentukan cara penyampaian yang akan ditempuhnya nanti. Untuk bahan-bahan yang telah dikuasai siswa, misalnya, guru tidak akan memberikan penjelasan yang banyak lagi. Di samping itu, dengan adanya evaluasi awal, guru akan dapat melihat hasil yang betul-betul dicapai melalui program yang dilaksanakannya, setelah membandingkannya dengan hasil evaluasi akhir.

       Tes dan evaluasi bisa diberikan pada awal segmen instruksional untuk menentukan (1) apakah siswa-siswa mempunyai keahlian sebelumnya yang diperlukan untuk pengajaran (untuk menentukan kesiapan) atau (2) untuk jenjang apa siswa telah memperolah tujuan dari pengajaran yang telah direncanakan  (untuk menentukan penempatan siswa atau modifikasi dari pengajaran).

       Pretest untuk menentukan  jenjang pada siswa yang telah memperoleh tujuan dari rencana pengajaran merupakan tidak berbeda dari tes yang digunakan untuk mengukur hasil dari pengajaran. Dengan demikian, sebuah tes dirancang untuk mengukur hasil akhir (final achievement ) pada subjek atau unit yang bisa diberikan di awal untuk mengukur performansi peserta pada tujuannya. Dalam hal ini, tes akhir atau evaluasi tentu seharusnya   tes yang digunakan   tidak sama dengan pretest tetapi memiliki bentuk yang sama.

 

2.2   Tes dan Evaluasi selama pengajaran

Setelah evaluasi awal dilakukan, langkah berikutnya ialah melaksanakan pengajaran  sesuai dengan langkah-langkah/kegiatan belajar-mengajar yang telah direncanakan.

       Selama langkah ini berlangsung, kegiatan evaluasi dilakukan oleh guru antara lain dalam bentuk kuis-kuis, tugas-tugas, observasi, dan bertanya langsung kepada siswa tentang pelajaran yang sedang disajikan, apakah cukup jelas, dan sebagainya. Dari kegiatan evaluasi ini, guru dapat mengetahui bagian-bagian mana dari kegiatan belajar-mengajar yang tampaknya kurang efektif atau sulit dilaksanakan dengan baik.

       Atas dasar evaluasi selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung, guru dapat melakukan perbaikan/penyesuaian, antara lain menjelaskan kembali bahan-bahan yang belum sepenuhnya dipahami siswa, dengan cara yang berbeda.

      w Tes dan evaluasi yang diberikan selama pengajaran memberikan dasar untuk evaluasi formatif. Tes dan evaluasi digunakan untuk memonitor kemajuan pembelajaran, mendeteksi kesalahan-kesalahan belajar, dan memberikan umpan balik pada para siswa dan juga guru. Para guru pada umumnya menyebutnya istilah ini adalah tes formatif test pembelajaran (formative tests learning tests), tes latihan (practice tests), kuis (quizzes), tes unit (unit tests) dan sejenisnya. Tes dan evaluasi ini umumnya mencakup beberapa bagian yang belum ditetapkan  pada pengajaran. Dan mengarahkan sampel yang terbatas pada hasil pembelajaran. Idealnya, tes dan evaluasi akan dikonstruksi sedemikian rupa sehingga penentuan kebenaran bisa diberikan  untuk tujuan pembelajaran yang belum dicapai. Ketika siswa gagal pada soal tertentu atau performansinya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, bisa dilakukan review secara berkelompok. Ketika sedikit jumlah siswa yang membuat kesalahan, metoda alternatif untuk belajar bisa ditentukan (misalnya seperti tugas membaca, mengerjakan latihan-latihan, dan sejenisnya).

        Kesulitan pembelajaran yang persisten /tetap bisa menggunakan tes diagnosis. Untuk tipe tes ini, sejumlah butir soal diperlukan untuk bidang-bidang tertentu, dengan variasi yang mudah dari butir ke butir. Didalam mendiagnosa kesulitan siswa di dalam menambah sejumlah secara keseluruhan misalnya akan perlu untuk menyertakan masalah tambahan yang berisi gabungan jumlah-jumlah yang bermacam-macam, beberapa memerlukan pembawaan dan beberapa tidak, untuk menunjukkan dengan jelas tipe-tipe yang kusus dari  kesalahan-kesalahan  yang dibuat. Tes diagnostik adalah  bidang yang dikususkan yang telah diabaikan di dalam pengukuran pendidikan. Ada beberapa penetapan tes diagnostik tetapi ini merupakan pada bidang keahlian dasar. Di bidang lain, guru-guru harus banyak tergantung pada fitur-fitur tes diagnostik pada tes formatif atau menyiapkan tes diagnostik dan evaluasi sendiri.

 

2.3   Tujuan akhir tes dan evaluasi pengajaran.

Setelah pengajaran selesai dilaknanakan, maka tibalah saatnya bagi guru melakukan evaluasi akhir atau post-test , dengan menggunakan tes yang sama atau dengan yang digunakan pada evaluasi awal.

      Fungsinya ialah untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan yang dicapai siswa pada  akhir pengajaran. Jika hasil evaluasi akhir kita bandingkan dengan evaluasi awal, akan dapat diketahui seberapa jauh efek atau pengaruh dari pengajaran yang telah kita berikan, di samping sekaligus dapat pula kita ketahui bagian-bagian mana dari bahan pengajaran yang masih belum dipahami oleh sebagian besar siswa.

        Pada akhir bagian pengajaran (unit atau subjek), perhatian kita yang utama adalah untuk mengukur sampai jenjang mana hasil yang diinginkan telah dicapai. Meskipun tujuan tes dan evaluasi pengajaran ini digunakan terutama untuk evaluasi sumatif, tes dan evaluasi bisa memberikan fungsi lain. Tujuan tes unit bisa digunakan untuk umpan balik pada murid-murid, menugaskan tugas remedial, dan menilai pengajaran dan juga untuk tujuan kenaikan kelas. Pada kenyataanya, tes dan evaluasi bisa memberikan fungsi untuk evaluasi formatif dan sumatif, dan di beberapa kasus memberikan sebuah pretest untuk unit berikutnya. Tujuan akhir tes pelajaran memberikan pandangan luas terhadap pembelajaran siswa melalui semua hasil yang diinginkan pada sebuah subjek. Selain digunakan untuk kenaikan, tes dan evaluasi juga memberikan informasi untuk evaluasi keefektifan pengajaran.

 

2.4     Tindak Lanjut

       Berdasarkan hasil-hasil evaluasi yang telah dilakukan, guru dapat merencanakan kegiatan-kegiatan tindak lanjut yang perlu dilakukan, baik berupa upaya perbaikan (remedial) bagi siwa-siswa tertentu, maupun berupa penyempurnaan program pengajaran. Upaya tindak lanjut ini sangat penting dalam proses pengajaran, sebab jika tidak, kegiatan-kegiatan evaluasi yang telah dilakukan tidak akan banyak gunanya, hanya merupakan pemborosan waktu saja.

 

3   Mengembangkan kisi-kisi tes dan evaluasi

Untuk meyakinkan bahwa tes dan evaluasi kelas yang mengukur sampel yang mewakili secara intruksional sesuai dengan tugas-tugas adalah penting untuk membuat spesifikasi yang bisa mengarah pada pemilihan butir-butir soal dan tugas-tugas evaluasi. Ketika mempersiapkan tes pembelajaran yang singkat pada bidang yang terbatas (misalnya ejaan dan tanda baca (spelling and capitalization ) cukup dengan menyusun daftar sederhana pada tugas kusus, dengan indikasi sejumlah butir soal yang mengukur masing-masing tugas. Akan tetapi untuk kebanyakan tujuan tes  lebih menguraikan spesifikasi yang diperlukan. Satu alat yang banyak digunakan untuk tujuan ini adalah tabel spesifikasi (test blueprint ).

 

3.1        Pembuatan kisi-kisi Tes

Agar terdapat kesesuaian antara TIK dan soal tes baik dalam aspek jenjang kemampuan maupun lingkup isi, perlu dibuat kisi atau blue-print. Berikut ini adalah contoh sederhana kerangka format dalam penyusunan kisi-kisi test.

 

 

 

 

 

KISI-KISI TES

 

MATA PELAJARAN            : ………………….                                                     Kelas   : …………

No.

Kompetensi Dasar

Materi

Jum. Soal

Indikator

Butir Soal

Bentuk Soal

No. Soal

Ket

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.1        Penyusunan Soal

Berdasarkan TIK yang telah dirumuskan dengan mengacu pada ksisi-kisi yang ada, kini disusun soal-soal tes untuk menilai taraf kisi-kisi yang ada, kini disusun soal-soal tes untuk menilai taraf pencapaian masing-masing TIK, dengan memperhatikan :

1)       kesesuian dalam jenjang kemampuan;

2)       kesesuaian dalam lingkup isi;

3)       kaidah-kaidah konstruksi tes.

 

3.2        Perakitan Tes

Setelah setiap soal selesai disusun dan ditelaah serta diperbaiki, antara lain berdasarkan patokan-patokan di atas, maka dilakukan perakitan untuk menghasilkan suatu tes yang utuh disertai dengan petunjuk pelaksanaannya.

      Dalam perakitan tes tersebut, perlu diperhatikan tata urutan soal-soalnya, dengan mempertimbangkan urutan bahan serta jenjang kemampuan yang tekandung dalam setiap soal.

       Jika bentuk soal yang digunakan adalah bentuk objektif, perlu diperhatikan pula agar jawaban benar dan salah tidak terurut secara teratur sehingga memudahkan penerkaan oleh siswa, melainkan disusun secara acak.

 

4   Memilih bentuk soal yang tepat dalam test berbahasa

Membuat perbedaan antara tes kelas yang berisi butir-butir soal yang objektif dan evaluasi performansi yang mengharapkan siswa untuk membuat tanggapan (misalnya pada menulis essay) atau melakukan tugas tertentu. Butir tes yang objektif disusun dan memerlukan murid-murid untuk memberikan satu atau dua kata atau memilih jawaban yang tepat dari sejumlah pilihan. Disebut tes objektif karena memiliki satu jawaban yang tepat yang bisa ditentukan sebelumnya. Tugas evaluasi performansi, seperti pertanyaan bentuk uraian. Bentuk lain dari tugas evaluasi performansi adalah bisa mengharapkan  siswa untuk menggunakan peralatan, melakukan hipotesa, melakukan observasi, membangun sesuatu (model), atau tampil untuk audience (misalnya menyampaikan pidato). Untuk kebanyakan tugas evaluasi performansi tidak ada jawaban  tunggal yang benar atau paling benar – bisa ada bermacam-macam tanggapan yang dianggap bagus. Penilai ahli diharapkan untuk memberi penilaian pada performansinya. Untuk  beberapa tujuan intruksional, butir soal objektif adalah yang paling efisient.

 

4.1      Komponen Tes Kebahasaan

       Komponen atau unsur kebahasaan yang diteskan adalah meliputi hal-hal yang menjadi cakupan pengajaran bahasa. Cakupan pengajaran bahasa adalah meliputi kompetensi kebahasaan, keterampilan berbahasa, dan kesusateraan.

 

1)       Tes Kompetensi Kebahasaan

             Menurut Brown (1980:27 – 28) dalam Arikunto (2005:152) bahwa kompetensi kebahasaan seseorang berkaitan dengan pengetahuan tentang sistem bahasa, tentang struktur, kosa kata, atau seluruh aspek kebahasaan itu, dan bagaimana tiap aspek tersebut saling berhubungan. Dengan kompetensi kebahasaan yang dimilikinya itu, seseorang akan mampu membedakan antara “bahasa” dan “bukan bahasa”. Artinya, ia akan mampu membedakan antara, misalnya, bunyi yang merupakan bunyi bahasanya yang bermakna dengan bunyi yang bukan bahasa, kosa kata bahasanya dengan bukan bahasa, struktur kalimat yang gramatikal dan dapat diterima oleh para penutur asli dengan struktur yang tak gramatikal (bukan bahasa) atau tidak dapat diterima, dan sebagainya.

 

    a)   Test Struktur Tata Bahasa

                   Struktur bahasa pada umumnya dibedakan ke dalam morfologi dan sintaksis. Struktur sintaksis merupakan hal yang lebih penting daripada morfologi karena sintaksis merupakan struktur bahasa yang tertinggi. Di samping itu, struktur kalimatlah yang lebih secara langsung berkaitan dengan kegiatan berbahasa.

 

     b)   Tes Kosa Kata

                  kosa kata dalam suatu bahasa biasanya jumlahnya banyak sekali. Akan tetapi, hanya sebagian kosa kata yang dipergunakan secara aktif dalam kegiatan berkomunikasi, sedang yang lain jarang dipoergunakan. Berdasarkan kenyataan itu kosa kata dibedakan ke dalam kosa kata aktif dan pasif, yang mencerminkan tingkat kesulitan kosa kata.

 

2)       Tes Kemampuan Berbahasa

Menurut Harris (1979:9) dalam Arkunto (2005: 154-155) bahwa kemampuan berbahasa dapat dibedakan menjadi dua kelompok, kemampuan memahami (comprehension ) dan mempergunakan (production ), masing-masing bersifat reseptif dan productif. Kemampuan receptif merupakan proses decoding , proses usaha memahami apa yang dituturkan orang lain. Sebaliknya, kemampuan produktif merupakan proses encoding , proses usaha mengkomunikasikan ide, pikiran, atau perasaan melalui bentuk-bentuk kebahasaan

 

4.2   Jenis Tes

               Ada beberapa jenis tes yang sering digunakan dalam membuat soal dalam tes berbahasa. Di samping kesesuaian dalam jenjang kemampuan dan lingkup isi, dalam menyusun soal-soal tes perlu pula dperhatikan kesesuaian dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam penyusunan/konstruksi tes, baik tes bentuk uraian maupun tes bentuk objektif.

 

   1)   Tes Bentuk Uraian

       Dalam soal-soal tes bentuk uraian, siswa diminta merumuskan, mengorganisasikan dan menyajikan jawabannya dalam bentuk uraian. Soal-soal bentuk uraian ini terbagi atas dua jenis, yaitu uraian bebas dan uraian terbatas. Kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dalam merumuskan soal-soal bentuk uraian, baik bebas maupun terbatas, antara lain ialah bahwa:

          -  rumusan soal-soal hendaknya jelas, dilihat dari pilihan kata/istilah yang dipakai maupun struktur kalimatnya.

          -  rumusan soal-soal hendaknya cukup singkat, dalam arti tidak bertele-tele melainkan langsung pada pokok persoalannya (to the point ).

 

  2)   Tes Bentuk Objektif

         Dalam soal-soal tes bentuk objektif ini dikenal bentuk Benar-Salah, pilihan Ganda, Menjodohkan, dan Melengkapi/Isian. Penjelasan tentang kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan dalam  penyusunan masing-masing jenis/bentuk soal di atas dapat diikuti dalam uraian di bawah ini;

 

(1)   Benar – Salah

Ini adalah bentuk tes yang soalnya berupa pernyataan. Setiap pernyataan mengandung dua kemungkinan; Benar atau Salah. Biasanya soal ini berisi pernyataan tentang fakta, definisi dan prinsip-prinsip. Adapun kaidah-kaidah konstruksi tes sebagai berikut;

a.           Menghindari pernyataan-pernyataan yang mengandung perkataan: kadang-kadang, pasti, pada umumnya, dan sejenisnya, yang dapat memberi indikasi benar tidaknya pernyataan tersebut.

b.          Menghindari pengambilan kalimat langsung dari buku pelajaran.

c.           Menghindari suatu pernyataan yang merupakan suatu pendapat  yang masih dapat diperdebatkan kebenarannya.

d.          Penyusunan pernyataan Benar – Salah dalam tes dilakukan secara acak, misalnya: B, B, S, S, S … dan seterusnya.

 

Contoh soal:

Read the following advertisement and circle T if the statement is true or F if the statement is false.

 

 

NEWRON THEATRE

FORTHCOMING ATTRACTIONS

Monday, 8 January for 2 weeks

 

MY FAT FRIEND

Charles Laurence’s popular comedy

Wednesday, 24 January to

Saturday, 27 January

 

Shanghai Festival Ballet

Presents

SWAN LAKE

Monday, 29 January for one week

 

 

 

            1. The Shanghai Festival Ballet will perform  on Sunday                              T  -  F

2.  All events will be performed in Newron  Theatre.                                    T  -  F

3. If you like dancing, you should see Swan Lake.                                        T  -  F

4. The Comedy show will  present for three days.                                         T  -  F

 

 

 

 

(2)   Pilihan Ganda

Bentuk soal Pilihan Ganda menyediakan sejumlah kemungkinan jawaban, satu di antaranya adalah jawaban yang benar. Adapun kaidah-kaidah konstruksi tesnya adalah sebagai berikut:

a.       Pokok soal merupakan masalah yang  dirumuskan dengan jelas.

b.      Perumusan pokok soal dan  alternatif jawaban hendaknya dibatasi pada hal-hal yang diperlukan saja.

c.       Hanya terdapat satu kemungkinan jawaban yang benar.

d.      Alternatif jawaban harus logis dan pengecoh harus berfungsi.

e.       Usahakan tidak menggunakan option yang berbunyi “semua jawaban salah”.

   

          Contoh soal:

                        Tom ought not to ……… me your secret, but he did.

A.                tell

B.                 having told

C.                 be telling

D.                have told

 

(3)   Menjodohkan

Bentuk soal ini berisi pernyataan yang terdiri atas 2 kelompok yang paralel (pernyataan dan jawaban), yang harus dijodohkan satu sama lain. Adapun kaidah-kaidah konstruksi tesnya adalah sebagai berikut:

a.  Hendaknya materi yang diajukan berasal dari hal yang sama, sehingga pertanyaan yang diajukan bersifat homogen.

b.  Usahakan agar pertanyaan dan jawaban mudah dimengerti.

c.  Jumlah jawaban hendaknya lebih banyak daripada jumlah pertanyaan.

d.  Gunakan simbol yang berlainan untuk pertanyaan dan jawaban, misalnya 1, 2, dan seterusnya, untuk pertanyaan, serta a, b, dan seterusnya untuk jawaban.

 

       Contoh soal:

From the list of words given, choose the one which is most suitable for each blank. Write only the letter of the correct word after each number on your answer sheet. (Use each word once only)

 

A. completely                             C. busily                      E. quickly        G. happily

B. politely                                  D. carefully                 F. angrily         H. hungrily

 

‘Write (1) …….. ‘the teacher shouted (2) …………., ‘but don’t waste time. You must get used to working (3) ………’

‘Please, sir,’ a student said (4) ………, ‘I’ve finished.’

‘No, you haven’t, ‘answered the teacher ‘You haven’t (5) ……….. until you’ve ruled a line at the end. ‘Meanwhile, the boy sitting next to him was (6) ……….engaged in drawing a map. 

 

 

(4)   Melengkapi

Bentuk melengkapi merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat, atau simbol dan jawabannya hanya dapat dinilai dengan benar atau salah. Adapun kaidah-kaidah konstruksi tesnya adalah sebagai berikut:

a.  Tidak menggunakan pernyataan yang langsung diambil dari buku.

b. Pernyataan hendaknya mengandung hanya satu kemungkinan jawaban yang dapat diterima.

 

       Contoh soal:

Read through the following passage containing a number of incomplete words. Write each completed word on your answer sheet at the side of the appropriate number. (Each dash represents one letter.)

 

     Snakes are ones of the (1) d - m - n - - t groups of (2) r - pt -  -  - -: there are at least 2,000 different (3) sp - c - - s of snakes (4) sc -  - - - - d over a wide area of the earth. Not all snakes are (5) p - - s - n - - s: in fact, the (6) m - j - - - - y are quite harmless. Contrary to (7) p - p - l - - believe, a snake’s (8) f - - k - d tongue is not (9) d - ng - - - - - to human beings: it is merely for touching and smelling (10) s - bs - -n - - s. Snakes (11) in - - ct poison into their (12) vi - - - -‘s body by (13) b - t - - g him with their (14) f - - gs.

 

5.   Saran-saran  umum untuk Penulisan Butir-butir Soal dan Tugas-tugas Evaluasi

       Di dalam mempersiapkan seperangkat butir soal dan tugas-tugas evaluasi, ada beberapa aturan umum yang bisa digunakan untuk semua tipe butir soal, di antaranya yaitu:

1)   Gunakan spesifikasi tes da evaluasi sebagai acuan atau petunjuk . Spesifikasi menggambarkan performansi untuk diukur dan sampel hasil pembelajaran yang diukur.  

2)   Tulis lebih banyak butir soal daripada yang diperlukan . Mempersiapkan lebih banyak butir soal dan evaluasi daripada yang diperlukan akan mengganti butir soal yang lemah ketika dicek lagi.

3)    Tulislah butir soal dan evaluasi dengan baik sebelumnya pada hari pelaksanaan tes . Menyusun butir soal selama beberapa hari dan merefisinya lagi akan terjadinya kurang kejelasan atau ambiguitas yang dihadapkan selama persiapan.

4)   Tutislah masing-masing butir soal dan evalusi agar membangkitkan performansi yang digambarkan di dalam hasil pembelajaran .

5)   Tulislah masing-masing butir soal dan evaluasi agar tugas yang dikerjakan didifinisikan dengan jelas . Kejelasan diperoleh dengan memformulasikannya daengan hati-hati pertanyaan dan intruksi, menggunakan bahasa yang sederhana dan jelas, menggunakan  tanda baca dan tata bahasa yang jelas, menghindari penggunaan kata yang berlebihan.

6)   Tulislah masing-masing butir soal pada tingkat bacaan yang sesuai . Jagalah kesulitan bacaan dan tingkat kosa kata sesederhana mungkin untuk mencegah faktor-faktor dari pendidistorsi hasil. Jawaban-jawaban siswa hendaknya ditentukan oleh performansi yang diukur, bukan oleh faktor butir soal yang disusun untuk diukur.

7)  Tulislah masing-masing butir soal agar tidak memberikan bantuan di dalam merespon pada butir-butir yang lainnya .

8)   Tulislah msing-masing butir soal agar jawaban hanya satu yang benar atau dalam tugas evaluasi, respon dinilai sangat betul atas kesepakatan para ahli penyekjor.

9)   Kapan saja butir-butir soal atau tugas evaluasi direvisi, dicek ulang relevansinya . Ketika meriview butir soal untuk kelayakan, kejelasan, kesulitan, dan kebebasan dari petunjuk dan bias, diperlukan  adanya revisi.

 

6.   Memfokus pada peningkatan pembelajaran dan Pengajaran

       Tujuan utama pada tes dan evaluasi adalah untuk meningkatkan pembelajaran siswa. Tes dan evaluasi kelas yang dikonstruksikan dengan baik harus meningkatkan kedua segi  yaitu  segi kualitas dan segi kuantitas dari pembelajaran siswa.

1)   Tes dan evaluasi bisa memiliki pengarauh yang diinginkan pada pembelajaran siswa jika perhatian itu ditujukan pada kedalaman isi dan hasil belajar yang diukur.

2)   mengkonstruksi tes dan evaluasi yang mengukur berbagai macam hasil pembelajaran harus juga mengarah pada peningkatan prosedur pengajaran  dan dengan tidak langsung meningkatkan  pembelajaran siswa.

3)   Tes dan evaluasi akan memberikan konstribusi hubungan guru dan siswa untuk ditingkatkan  (dengan dampak yang menguntungkan pada pembelajaran siswa) jika siswa memandang tes dan evaluasi itu  bisa bermanfaat untuk mengukur prestasi ereka .

 

7   Kesimpulan

Untuk dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar-mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Sasaran utama pada tes dan evaluasi kelas adalah untuk memperoleh informasi yang valid, reliabel dan bermanfaat terhadap prestasi siswa. Hal ini perlu menenetapkan tentang apa yang perlu diukur dan mengidentifikasikannya secara cermat sehingga tugas-tugas yang membangkitkan performansi yang diharapkan dapat dibangun.

       Tes dan evaluasi kelas bisa digunakan untuk bermacam-macam tujuan instruksional. Ada empat kegiatan dalam tes dan evaluasi selama program pengajaran, yaitu; (1) tes awal (pretest ), (2) Test dan Evaluasi selama pengajaran, (3) Tujuan akhir test dan evaluasi pengajaran (post test ), dan (4) Tindak Lanjut

       Agar terdapat kesesuaian antara TIK dan soal tes baik dalam aspek jenjang kemampuan maupun lingkup isi, perlu dibuat kisi atau blue-print. Ada berbagai macam bentuk tes bahasa, diantaranya yaitu: (1) tes bentuk uraian; yaitu uraian bebas dan uraian terbatas, (2) tes bentuk objektif, yaitu yangberupa; pilihan ganda, benar – salah, menjodohkan, dan melengkapi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto S. 2005. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan . PT. Bui Aksara. Jakarta.

Hughes, Arthur. 1989. Testing for Language Teachers . Cambridge University Press.

Lin, Robert L and Norman E. Gronlund. 1995. Measurement and Assessment in Teaching . Merrill, an imprint of Prentice Hall Education, Career & technology. Ohio.

Ibrahim, R dan Nana Syaodih S. 2003. Perencanaan Pengajaran , Penerbit RINEKA CIPTA. Jakarta.

 

 THE RECOMENDED TEST AND EVALUATION BOOKS


 

 TEST AND EVALUATION

 TEST AND EVALUATION

 TEST AND EVALUATION

 TEST AND EVALUATION

TEST AND EVALUATION

TEST AND EVALUATION

 








Fri, 27 May 2011 @19:10


1 Comments
image

Fri, 1 Sep 2017 @11:46

ed sheeran tour

It's nearly impossible to find educated people in this particular topic,
however, you sound like you know what you're talking about!
Thanks


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Secret Code
Please enter the correct sum of these numbers 6+5+4

Welcome
image

Bejo Sutrisno, M.Pd

0815-978-1395


PER. TAMAN KINTAMANI, Blok C7/05, RT.22/RW.08, TAMBUN UTARA, BEKASI, JAWA BARAT.
Check Your Domain Name

Check Domain Name ?

Recent Articles
BRITISH PROPOLIS

Propolis for Kids

BIKIN WEB HEMAT

web

BP-MR-BEJO.COM