MR-BEJO.COM - Blog for Business and Education
RSS Feed
Subscribes

Faktor Sosiokultural pada Pembelajaran Bahasa

 

A.   Pendahuluan

Learning Styles Bahasa bukanlah sosok yang tetap berwajah sama dari masa ke masa. Sebagaimana manusia, sang pemakainya, bahasa senantiasa tumbuh dan berkembang, secara perlahan-lahan, dan tanpa kita sadari. Bukan hanya bahasa yang tumbuh dan berkembang, pandangan dan pengertian manusia mengenai hakikat dari bahasa pun tumbuh dan berkembang. Pandangan dan pengertian manusia mengenai hakikat bahasa pada Plato dan Aristoteles berbeda dengan pandangan dan pengertian manusia pada masa kini. Berpijak pada pertumbuhan dan perkembangan itu orang pada masa kini dapat memperlawankan antara yang “tradisional” dan yang “modern”.

        Kegiatan pengajaran bahasa di Indonesia belum ada setengah abad usianya. Jika yang terjadi di Indonesia selama kurun waktu itu dicoba dibandingkan dengan rentetean kejadian satu abad maka tentu saja angka-angka tahun semata-mata tidak dapat digunakan sebagai pegangan begitu saja. Setidak-tidaknya terdapat dua alasan mengapa demikian. Pertama, keadaan dan latar belakang dunia pengajaran bahasa di negara-negara Barat berbeda dengan  yang di Indonesia. Kedua, seluk-beluk pengajaran bahasa yang berkembang selama satu abad itu dianggap secara garis besar saja lalu dicobakan penerapannya pada kegiatan pengajaran di Indonesia.

      Yang dapat ditangkap secara garis besar dari perkembangan “ilmu” pengajaran bahasa itu (tanpa perlu memperhitungkan situasi yang melatarbelakanginya) hanya ada dua arus saja, yaitu limpahan perhatian pada bentuk (form ) bahasa, dan curahan perhatian pada fungsi (function ) bahasa. Yang pertama merupakan warna pengajaran sepanjang jangka periode I-III, dan yang kedua warna pengajaran pada jangka periode IV. Peralihan dari yang pertama ke yang kedua itu di Indonesia ditandai dengan lahirnya Kurikulum 1984.

 Learning Styles

B.   Faktor sosiokultural pada pembelajaran Bahasa

       Penelitian di beberapa negara menunjukkan bahwa pelajar bahasa asing sukar sekali untuk dapat  menguasai pengetahuan yang cukup tentang sejarah, geografi dan kebudayaan dari masyarakat yang bahasanya sedang dipelajarinya sehingga ia dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam percakapan. Disamping itu faktor-faktor para linguistk juga merupakan hambatan untuk bisa berkomunikasi sepenuhny.

       Brown (1980) mengatakan bahwa ekspresi kebudayaan begitu terkait dengan komunikasi non verbal sehingga halangan utama untuk mempelajari kebudayaan bahasa asing yang dipelajari terletak lebih banyak pada dimensi non-verbal daripada dimensi verbal. Bahasa verbal praktis belum memakai semua pancaindra kita untuk berkomunikasi. Pancaindra yang dipakai untuk bahasa non-verbal adalah (1) penglihatan (visual), (2) penyentuhan (kinesthetics), dan penciuman (olfactory). Dalam komunikasi visual termasuk di dalamnya gerak-gerik tubuh (kinesic), kontak pandangan mata, kedekatan (proxemics), dan benda-benda (artifacts). Gerak-grik tubuh untuk berkomunikasi ini, misalnya, kita dapati dalam mengangguk, gerakan mata, dan gerakan tangan – yang artinya berbeda-beda dari satu bangsa ke bangsa yang lain, bahkan dari satu suku ke suku yang lain. Kontak mata sebagai komunikasi non-verbal dapat berarti macam-macam. Dalam kebudayaan Amerika, orang harus bertatapan mata saat berbicara: kalau tidak demikian, yang tidak berani menatap matanya akan dianggap kurang sopan, kuang memperhatikan, kurang jujur atau ada sesuatu yang disembunyikan. Ingat saja   ungkapan Amerika yang berbunyi Never trust a person who can’t look you in the eye . Hal ini sangat berbeda dengan kebudayaan Jepang dan Jawa (dulu khususnya) yang tidak menganjurkan bawahan menatap muka dan melihat mata atasannyakalau diajak berbicara, karena hal-hal tersebut dianggap tidk sopan. Proxemics dalam bahasa non-verbal berarti kedekatan fisik yang komunikatif. Setiap bangsa nampaknya mempunyai jarak-jarak tertentu dalam berkomunikasi.

Learning Styles       

D.   Kesimpulan

       Pada dasarnya kita bisa mengetahui antara pemerolehan bahasa pertama (first language acquisition) dan pemerolehan bahasa kedua (second language acquisition) dimana pemerolehan bahasa pertama diperoleh melalui aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. Dimana jalur kegiatannya bisa didapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal sedangkan pemerplehan bahasa kedua berlangsung setelah seseorang menguasai atau mempelajari bahasa pertamadan jalur kegiatannya dapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. Selain itu faktor sosialkultural sangat mendukung didalam menguasai pengetahuan yang cukup tentang sejarah, geografi dan kebudayaan dari masyarakat yang bahasanya sedang dipelajarinya sehingga ia dapat berpartisipasi sepenuhnya dalam percakapan.

 

 

 

 

 

References

 

Brown, H. Douglas.1980. Principles of Language Learning and Teaching . Prentice Hall, Inc.

Sadtono, E.1995. Perspektif Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia , Seksi Kajian BAHASA DAN Seni FPBS IKIP MALANG.

Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan & Drs. Djago Tarigan,1995. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa . Penerbit ANGKASA Bandung.

Purwo, Bambang Kaswanti.1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa . Penerbit Kanisius,

 



Bambang Kaswanti Purwo, Pragmatik dan Pengajaran Bahasa . Penerbit Kanisius, 1990. hlm. 4-5.

Ibid, hal. 41-42.

E. Sadtono, Perspektif Pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia , Seksi Kajian BAHASA DAN Seni FPBS IKIP MALANG. 1995. hal. 8

E. Sadtono, ibid. hal.8-9

Fri, 27 May 2011 @13:18


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Secret Code
Please enter the correct sum of these numbers 6+2+0

Welcome
image

Bejo Sutrisno, M.Pd

0815-978-1395


PER. TAMAN KINTAMANI, Blok C7/05, RT.22/RW.08, TAMBUN UTARA, BEKASI, JAWA BARAT.
Check Your Domain Name

Check Domain Name ?

Recent Articles
BRITISH PROPOLIS

Propolis for Kids

BIKIN WEB HEMAT

web

BP-MR-BEJO.COM