MR-BEJO.COM - Blog for Business and Education
RSS Feed
Subscribes

PEMEROLEHAN BAHASA (LANGUAGE ACQUISITION)

image

 

A.   HAKEKAT PEMEROLEHAN BAHASA (LANGUAGE ACQUISITION )

Istilah pemerolehan bahasa atau language acquisition biasanya diikuti oleh kata pertama atau kedua , sehingga kita kenal istilah pemerolehan bahasa pertama (PB1) atau first language acqisition dan pemerolehan bahasa kedua (PB2) atau second language acquisition . Pemerolehan bahasa pertama berkaitan dengan segala aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. Jalur kegiatannya dapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. Pemerolehan bahasa kedua berlangsung setelah seseorang menguasai atau mempelajari bahasa pertama. Jalur kegiatannya dapat melalui pendidikan informal dan pendidikan formal. Istilah pendidikan informal itu, dalam bukunya Henry Guntur Tarigan (1995:4),  biasa juga disebut “learning a language at home ” (Harding & Riley, 1986:21) atau  “untutored or naturalistic acquisition ” (Ellis, 1987:5); sedangkan pendidikan formal disebut oleh pakar ersebut   sebagai “learning a language at school ” atau “tutored or classroom acquisition ”. Henry Guntur Tarigan menyebut pendidikan informal itu sebagai pengajaran bahasa secara alamiah dan pendidikan formal sebagai pengajaran bahasa secara ilmiah .  Dulay [et al], (1981:11) dalam bukunya Henry Guntur Tarigan (1995:5) berpendapat bahwa pengajaran bahasa secara alamiah sama dengan pengajaran bahasa secara ilmiah. Demikian pula menurut Ellis dalam buku yang sama bahwa kedua istilah itu dapat dipertukarkan dengan pengertian yang  ku   rang lebih sama. Para pakar tersebut sependapat bahwa pengajaran bahasa secara alamiah disebut pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pengajaran bahasa secara ilmiah disebut pemelajaran bahasa (language learning). Mereka yang beranggapan bahwa pengajaran  bahasa secara informal tidak sama dengan pengajaran bahasa secara formal memberikan argumentasi sebagai berikut: belajar bahasa secara informal itu tidak berencana, kebetulan, tidak disengaja, dan tidak disadari; sedangkan belajar bahasa secara formal berdasarkan perencanaan yang matang, disengaja, dan di disadari.

Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa (language acquisition) diperoleh melalui pendidika   n informal yaitu pedidikan yang didapat dirumah atau dipelajari secara alamiah dengan tidak direncanakan dan tidak disengaja bisa dengan sendirinya dengan tidak disadari. Sementara pemelajaran bahasa didapat dengan melalui pendidikan formal tentunya dengan cara direncanakan dan disengaja dan juga disadari.

 l

B.    PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA (FIRST LANGUAGE ACQUISITION )

Seperti apa yang telah diuraikan diatas bahwa pemerolehan bahasa pertama diperoleh melalui aktivitas seseorang dalam menguasai bahasa ibunya. Dimana jalur kegiatannya bisa didapat melalui   pendidikan informal dan pendidikan formal. Dibawah ini dibahas tentang teori-teori dan juga pendekatan-pendekatan pada pemerolehan bahasa pertama (first language acquisition) yang diambil dari Brown (1980) dalam bukunya yang berjudul “Principles of Language Learning and Teaching”.

 

     1.  Teori Behavioristik (Behavioristc Theories )

Pada teori ini bahwa bahasa adalah bagian yang fundamental pada segenap sikap manusia dan ahli si   kap telah menguji bahwa eori ini digunakan untuk memformulasikan teori-teori pemerolehan bahasa yang konsisten. Pendekatan behavioristik berfokus pada aspek-aspek perilaku linguistik yang dapat dimengerti atau direspon yang bisa diamati secara umum dan hubungan respon-respon tersebut dengan peristiwa yang ada didunia yang melingkupinya.

Salah satu upaya yang sangat terkenal pada konstruksi sebuah model behavioristik pada behavior linguistik adalah “Verbal Behavior” oleh klasiknya  Skinner (1957) yang dengan eksperimennya yaitu binatang didalam “Skinner’s boxes” atau boks-boks Skinner. Teori Skinner pada verbal behaviour merupakan perluasan dari teori umumnya pada teori belajar “Operant Conditioning”, yaitu pengkondisian organisme manusia untuk memancarkan sebuah respon, atau operant.  

 

      2.   Teori Generatif

Bertolak pada rangkaian teoritis kita menjumpai teori-teori pada bahasa anak, dengan pendekatan rasionalistiknya. Ada dua tipe teori generatif yang menandai pada penelitian bahasa anak, dan keduanya memberikan rankaian yang sama. Tipe pertama adalah pendekatan nativis (nativeist approach) dimana dalam pendekatan ini bahwa pemerolehan bahasa ditentukan melalui bawaan sejak lahir (innate) dengan berjenis alat yang membangun yang merupakan konstruksi sistem terdalam dari bahasa untuk memberi kecenderungan memperoleh bahasa, termasuk persepsi sistematis bahasa sekitar kita. dan yang kedua adalah yang disebut pendekatan kognitif (cognitive approach) dimana   pada pendekatan ini yang menurut Brown (1980:25) bahwa pendekata   n kognitif lebih menekankan pada tingkatan terdalam dari bahasa dimana memori, persepsi, pikiran, makna dan emosi secara saling bergantung dan tersusun dalam superstruktur otak manusia. Para ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa merupakan manifestasi perkembangan umum suatu aspek kemampuan kognitif dan afektif untuk berhubungan dengan dunia dan diri sendiri.

 

C.   BAGAIMANA ANAK-ANAK MEMPEROLEH BAHAS   A PERTAMA

Ketika baru dilahirkan, bayi tidak bisa bicara atau terdiam.  Kata “infant” berasal dari kata Latin yang artinya “Tanpa bahasa.” Pelan-pelan bayi itu berkembang dari l uca pan yang tidak mempunyai arti sampai pada satu atau dua ucapan kata dan akhirnya pada ucapan dalam bentuk kalimat yang lengkap sesuai dengan stuktur bahasa. Pada usia empat atau lima tahun, semua anak-anak diseluruh dunia mempunyai perintah (commands) pada bahasa utamanya.

Secara neurologi anak sudah dilengkapi dengan kemampuan berbahasa. Seorang anak sudah memperoleh bahasanya, sesuai dengan bahasa yang dipakai di lingkungannya. Chomsky (1972, 1975, 1979) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa adalah proses pendewasaan. Menurutnya seorang anak sudah dibekali dengan kemampuan berbahasa di dalam otaknya, karena otak kita sudah mempunyai susunan bahasa yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan manusia. Sebaliknya, Skinner berpendapat bahwa proses pemerolehan bahsa diawali dengan proses meniru sebagaimana bayi meniru apa yang diucapkan ibunya. Para behavioris sependapat dengan hal ini dan percaya bahasa harus diperoleh dengan proses belajar. Para ahli psikologi berpendapat bahwa memperoleh bahasa tidak cukup dengan reinforcement (penguasaan tata bahasa) tetapi harus diikuti dengan penguatan pemahaman.

Seorang anak yang sudah menguasai bahasanya tidak hanyabisa mengungkapkan apa yang dilihat di sekitarnya sekarang, tetapi mereka juga bisa mengungkapkan hal-hal yang berada di tempat lain dan hal-hal yang ada dalam imajinasi mereka. Hal ini karena bahasa dan pikiran mereka saling berhubungan. Bahasa berpengaruh terhadap pikiran, melalui penguasaan kosakata yang kita pelajari akan menentukan kategori yang kita gunakan untuk mengerti jalan pikiran kita tentang waktu, tuang, dan permasalahan karena tata bahasa memberikan pengertian yang berbeda-beda.

 

D.   LANGKAH-LANGKAH PEMEROLEHAN BAHASA PERTAMA

Meskipun perbedaan yang luas didalam budaya, anak-anak di setiap masyarakat nampaknya memperoleh bahasa dengan cara yang sama (Brown and Fraser, 1963; Bloom, 1970; Brown and Hanlon, 1970; Brown, 1973) . Meskipun seorang anak mungkin mulai menggunakan kata-kata lebih awal dari pada yang lain untuk bicara lebih lancar. Semua anak normal menguasai kaedah-kaedah dasar bahasa apa saja yang mereka dengar.

 f

Prespeech Communication  Dari minggu-minggu awal, suara bayi akan menarik perhatian yang lain dan meskipun mereka tidak bermaksud untuk berkomunkasi, suaranya berhasil didalam memberi informasi kepada orangtuanya tentang keperluan yang dia inginkan. Ada tiga pola menangis yang dimiliki oleh masing-masing bayi; pola ritme dasar (the basic rhythmical pattern) yang sering disebut sebagai menangis karena lapar (the hunger cry); menangis karena marah (the anger cry) dan menagis karena kesakitan (the pain cry). Seorang ibu dengan cepat belajar untuk mendeteksi perbedaan-perbedaan tersebut pada bunyi yang maknanya menangis dan memberi tanggapan kepadanya dengan semestinya. Misalnya, memberi tanggapan pada tangisan rasa sakit, dia segera menuju ke ruangan bayi (Wolff, 1969)

Suara-suara lain segera nampak menjelang usia tiga bulan, bayi tersebut mulai merengek pada usia lima atau enam bulan. Mereka mulai babbling (ngoceh), mengucapkan kata-kata terus menerus dengan menggunakan suku katanya yang sama. Tidak lama setelah enam bulan  bayi yang bisu berhenti babbling dimungkinkan karena tidak pernah dirangsang oleh pendengaran  ucapan manusia. Dalam ucapan awal, bayi membuat suara-suara dari semua bahasa, ucapan mbabling bayi dari China tidak bisa dibedakan dari ucapan babbling bayi dari Amerika. Lama kelamaam anak-anak mengembangkan pengendalian melalui suara yang mereka buat dan mulai meniru suara yang dibuat oleh yang lain.

Bayi tidak terbatas pada pengucapan/suara, tapi juga menggunakan gerak tubuh (gesture) untuk berkomunikasi. Pada usia sepuluh bulan, bayi mulai mencari bantuan dari orang dewasa, mencari mainan yag diluar jangkauannya, melihat lagi ke orang dewasa dan membuat babbling yang teratur yang semakin keras jika orang dewasa yang ada didekatnya tidak menanggapinya.

 

First  words    Sekitar tahun-tahun petamanya, anak-anak mengerti nama-nama untuk beberapa orang-orang atau benda-benda, dan banya yang telah memproduksi kata-kata pertamanya. Umumnya, kata-kata tersebut merupakan nama-nama benda-benda yang layak dibicarakan dan mempunyai nama (Nelson and Nelson, 1978). Kata-kata pertama yang menunjukkan dengan cepat bisa disentuh dan bisa dilihat; bahasa anak belum mengenal salah penempatan pada kata-kata.

pada tahap kata tunggal, bayi sering menggunakan sebuah kata untuk banyak tujuan, mengutamakan pada intonasi untuk mendapatkan arti. Misalnya, seorang bayi yang telah belajar kata “door” dapat, dengan menggunakan informasi, membuat sebuah pernyataan (“That’s a door”); menanyakan  sebuah  pertanyaan (“Is that a door?”) ;atau menyatakan sebuah tuntutan (“Open the door!”) (Menyuk and Bernholtz, 1969). Pengucapan kata-kata tunggal tersebut hanya bisa dimengerti melalui konteks. Jika anak kecil yang baru belajar berjalan ingin mencapai tombol pintu, dia lebih aman ntuk menekankan pada kata “Door!” yang maksudnya “Open the door!” Namun demikian, keberhasilan dari ucapan kata-kata tunggal tersebut tergantung pada kemampuan dari orang-orang lain untuk menggunakan konteks, intonasi, dan gerak tubuh (gestures) untuk menginterpretasikan  keinginan pragmatis anak.

Kepemilikan kosakata dasar tidak sama seperti pemerolehan bahasa. Bahasa memerlukan kata-kata untuk digabung menurut aturan-aturan tertentu, tapi Tatabahasa (Grammar) tidak bisa mendekat sampai anak telah sampai pada sebuah level tertentu pada pemahaman. Akan tetapi, hanya dengan merangkak mempersiapkan bayi untuk berjalan, pengucapan satu kata mempersiapkan mereka untuk bicara dengan cara seperti pada manusia seutuhnya.

 

First  Sentences    Pada masa anak-anak mencapai usia dua tahun, mereka mulai menggunakan dua kata bersama-sama, tidak ada jedah (pause) antara kata dan intonasi yang turun yang menyeluruh pada segenap pengucapannya. Mereka sekarang bicara dalam bentuk kalimat, dan kemampuan ini menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan  didalam daya ingat yang singkat; sekarang mereka bisa merencanakan  dan memproduksi sebuah pernyataan sebelum kata pertama dilupakan.

Pada tahap dua-kata ini, pola dasar pada tata bahasa (grammar) ini telah nampak didalam ucapan anak-anak. Anak-anak tidak sekedar hanya menjalankan ucapannya, namun mereka mengikuti aturan sintaksisnya mengenai susunan katanya (word order) yang didalam bahasa Inggris akan menentukan urutan Subject-verb-object untuk menunjukkan arti. Sehingga anak pada usia dua tahun akan mengucapkan “eat cake” (verb-object” tapi bukan “cake eat” (object-verb) (Brown, 1973).

 

Acquiring complex Rules    Seperti pada ucapan satu kata, kalimat dua kata sesungguhbya tidak mungkin untuk diinterpretasikan pada konteks. Misalnya, “Mommy shoe” bisa berarti “This is Mommy’s shoe” atau “ Mommy is wearing her shoe” atau  “There’s mud on Mommy’s shoe“ atau “Mommy, Put on your shoe!” Meskipun apa yang telah kita lihat, konteks merupakan sangat penting didalam percakapan orang dewasa,  bahasa anak-anak menjadi kurang kontekstual seperti kalimat-kalimat yang panjang dan mereka mulai menggunakan kata depan (preposition), konjungsi (conjunction), infleksi kata kerja (verb inflection) dan yag lainnya. Seperti mereka menguasai aturan tatabahasa yang compleks, anak-anak bisa berkomunikasi tentang apa yang terjadi kemarin dan apa yang mungkin akan terjadi besok.

Didalam menguasai aturan tatabahasa, anak-anak mungkin akan melalui beberapa strategi. Didalam belajarnya (Bever, 1970), anak-anak yag berumur dua, tiga dan empat tahun menggunakan sebuah mainan seperti mainan kuda-kudaan dan mainan sapi-sapian untuk memperagakan kalimat-kalimat berikut ini;

  1. The cow kisses the horse.
  2. It’s the cow that kisses the horse.
  3. It’s the horse that the cow kisses.
  4. The horse is kissed by the cow.

 

Anak-anak umur dua tahun memperagakan ketiga kalimat pertama diatas dengan benar, tapi pada kalimat 4, mereka seperti mengucapkan kuda mencium sapi (The horse kisses the cow) yang seharusnya sapi yang mencium kuda (The cow kisses the horse) . Menurut sipeneliti, anak umur dua tahun menduga bahwa ketika kata benda diikuti oleh kata kerja, kata benda itu adalah sebagai pelakunya. Tapi jika kata-kata lain memotong urutannya, seperti pada kalimat 4, anak umur dua tahun dengan sederhana akan menebak. Anak umur empat thaun juga memperagakan dua kalimat pertama dengan benar, tapi didalam kalimat 4 mereka membalikan interpretasinya, dengan konsisten akan mengatakan bahwa kuda mencium sapi. Mereka juga menentukan kuda sebagai pelakunya didalam kalimat 3, dimana anak umur dua tahun mengintepretasikan dengan benar. Menurut sipeneliti, bahwa anak pada usia empat tahun mengadopsi strategi yang berbeda. Mereka mendengar kata benda pertama didalam sebuah kalimat sebagai pelaku dan kata benda yang mengikutinya kata kerja sebagai objek dari sasaran pelaku. Strategi semacam ini akan mengarahkan mereka  salah dalam menginterpretasikan kalimat seperti pada kalimat 3 dan 4.

 

THE RECOMENDED SUPPORTING BOOKS ABOUT LANGUAGE ACQUISITION

 

 LANGUAGE ACQUISITION

 LANGUAGE ACQUISITION

 LANGUAGE ACQUISITION

 LANGUAGE ACQUISITION

 LANGUAGE ACQUISITION

 LANGUAGE ACQUISITION

 


H. Douglas Brown, Principles of Language Learning and Teaching. Prentice Hall, Inc. 1980. hal. 18-25

Elizabeth Hall. 1983. Psychology Today . New York: Random House. Hal. 308

 







Thu, 26 May 2011 @13:48


Write Comment

Name

E-mail (not published)

URL

Comment

Secret Code
Please enter the correct sum of these numbers 7+2+9

Welcome
image

Bejo Sutrisno, M.Pd

0815-978-1395


PER. TAMAN KINTAMANI, Blok C7/05, RT.22/RW.08, TAMBUN UTARA, BEKASI, JAWA BARAT.
Check Your Domain Name

Check Domain Name ?

Recent Articles
BRITISH PROPOLIS

Propolis for Kids

BIKIN WEB HEMAT

web

BP-MR-BEJO.COM